[RANT CAMPUR-CAMPUR] LGBT

by Lolly

Beberapa waktu belakangan ini, kehidupan gue lagi cukup sering terekspos dengan topik gay atau lesbian. Bahkan gue pernah pagi-pagi ngomongin homoseksualitas sama temen gue. So random.

Gue gak pernah bilang ke orang lain kalo gue support hak LGBT. Mungkin karena gue merasa pemikiran orang-orang terdekat gue gak seterbuka itu, dan gue males berdebat. Pada dasarnya gue gak suka berdebat. Gue sukanya berdiskusi. Bukannya gue beranggapan kalo orang-orang yang gue sayang pikirannya terlalu tertutup. Hanya saja kadang gue beranggapan gue memang lebih lebih open minded dari orang-orang di sekitar gue. Gue sangat suka kalo diajak berdiskusi tapi rasanya emang belum ketemu orang yang tepat aja. Atau mungkin karena gue memang belum mencoba? Who knows…:p

Gue sebenernya juga masih bingung, dan emang masih banyak perdebatan kalo LGBT itu dari sananya sudah begitu atau emang pengaruh keluarga atau lingkungan. Tapi akhir-akhir ini banyak penelitian yang bilang kalo LGBT itu genetik. Udah dari sononya.

Menurut gue, sebenarnya gak ngaruh juga sih, apakah ke-LGBT-an itu merupakan bawaan atau bukan, karena manusia ya manusia. Gue menjunjung tinggi hak asasi manusia. Gue rasa setiap orang punya hak yang sama untuk hidup, untuk melakukan apapun yang dia sukai, apapun yang dia inginkan, asal tidak melanggar hak hidup orang lain. Intinya, saling menghargai satu sama lain. That’s why, gue mendukung kesamaaan hak LGBT. Kenapa? Karena hak asasi manusia memang tidak seharusnya dilanggar. Gue mendukung mereka yang selama ini dianggap aib masyarakat untuk maju, untuk diperlakukan sama kayak mereka yang dianggap “normal”. Gue gak bisa bayangin kalo anak gue nantinya adalah seorang LGBT dan gue menolak dia. Gue menolak eksistensi dia, gue menolak kenyataan kalo dia itu “normal”. Preferensi seksual masing-masing orang itu urusan masing-masing orang, dan gue gak punya hak untuk ikut campur. Yang gue takutkan adalah, kondisi masyarakat sekarang ini, khususnya Indonesia, yang kayanya masih penuh sama orang-orang yang fobia sama orang-orang dengan preferensi seksual yang berbeda dari orang kebanyakan. Gimana nanti anak gue, kalo dia gay or lesbian or biseksual or transgender or aseksual or etc, menjalani hidup ditengah orang-orang yang fobia sama dia? Terlebih, gimana perasaan anak gue kalo dia tau Ibunya sediri menganggap dia adalah suatu “kesalahan”.

Gue pernah berdiskusi sama temen cowo gue. Dia sangat-sangat anti sama gay. Dia bahkan udah sampai tahap fobia, itu yang gue tangkep dari perilaku dan perkataan dia selama ini. Gue sempet tanya ke dia, “kalo best friend lo selama 10 tahun come out kalo dia adalah gay, apa yang akan lo lakukan?” He said, kalo dia akan pergi; angkat kaki; hengkang dari temen dia itu selamanya. Gue tanya lagi, “Even if he was your best friend for freakin 10 years?” Dan dengan yakin, dia mengangguk. Gue jujur aja sih, kaget. Gue tau sih, orang-orang banyak yang anti sama gay. Entah karena takut ketularan (?), takut ditaksir (terus kenapa kalo ditaksir? apa dgn ditaksir, lo tiba-tiba akan jadi gay gitu?) takut diajak pacaran (?), atau apa? Padahal kalo dia memang straight, seharusnya sih gak akan gampang ganti preferensi seksual cuman gara-gara temenan sama gay. Dan gay juga sama aja kaya straight lainnya, dia jelas akan milih-milih orang yang dijadiin pacar. Kata siapa juga dia akan demen sama lo? hahaha (nyinyir banget ya gue XD)

Ada juga yang bilang, para LGBT akan masuk neraka terdalam. Huuuh who are they to judge? Are they some kind of god?

Intinya, gue merasa LGBT dan para straight adalah manusia, yang punya derajat dan hak yang sama. Kenapa orang harus direndahkan karena preferensi seksualnya? Hal yang gak bisa dia kontrol, hal yang bukan penyakit (LGBT sudah dicoret dari daftar disease), dan hal yang sama sekali gak mengganggu orang lain. Kenapa harus anti sama mereka? Just because they have another sexual preference, they can’t love? They can’t have romantic partners? They can’t live? They are broken, so they need to be fixed, soon? We are all broken human being, truth be told. Jadi, kenapa ngurusin hidup orang lain? Kalo ditanya gimana harus bersikap sama gay, ya bersikap kaya lo bersikap ke sesama manusia. Duh. Gue merasa kalo orang itu respect sama orang lain, kita akan hidup dengan damai sampai akhir. Dan anak gue, 6-7 tahun yang akan datang akan hidup dengan hak-hak yang terpenuhi atas preferensi seksualnya.

Advertisements