Dewasa Bareng-Bareng

by Lolly

Lol, ini Shinta. Bokap gue meninggal. Lo bisa dateng gak ke Carolus jam 8?

Gue lagi di perpustakaan kesayangan gue ketika sahabat gue (yang dulu sempat menjauh karena jarak dan baru kemarin didekatkan kembali dengan gue) nelpon gue dengan nomor yang gak gue kenal. Awalnya dia sempet nelpon gue dengan nomor yang berbeda, tapi karena gue gak pernah suka ditelpon mendadak sama nomor yang gak dikenal, gue mereject telpon dia. Telepon yang kedua akhirnya gue angkat karena gue kira itu manager salah satu perusahaan yang gue kirimin internship application beberapa jam sebelumnya.

Sejujurnya sih gue speechless waktu itu,setelah denger kabar dari Shintaw. Gue langsung tutup telpon. Terus gue bengong. Bingung mau ngapain. Setelah otak gue rada-rada kerja lagi, gue langsung sms dan kabarin anak-anak yang lain dan janjian ke Rumah Duka Carolus bareng-bareng.

Gue masih menetap di perpustakaan sampai jam 19.30. Sok-sok an belaga baca Bilangan Fu tapi pikiran muter kemana-mana. Mostly sih mikirin Shinta. Duh gimana perasaan Dia sekarang ini? Apa yang harus gue lakuin kalo ketemu Dia? Sejujurnya aja gue merasa gue gak sanggup untuk pergi ke rumah duka dan ketemu temen gue itu. I wasn’t sure I could handle all the sadness. Gue belum siap mental. Silly, ya kan? Umur udah 20 tahun tapi gak bisa handle sebuah kunjungan ke rumah duka.

Itu adalah tiga jam membaca buku yang penuh siksaan, karena gue sedih, bahkan cenderung depresi, for my friend. Apalagi gue sedikit-sedikit masokis dengan masang Payung Teduh full volume di telinga. Gue nyerah. Gue pun curhat ke temen gue yang lain kalo gue sedih dan depresi. Dia, yang bahkan pemakaman nyokapnya gak bisa gue hadiri, terlihat ceria seperti bisa dan bahkan dengan ajaibnya bisa menghibur gue dengan percakapan-percakapan super gajebow sehingga gue seengganya gak sedepresi itu ketika menuju ke rumah duka beberapa jam kemudian. I wonder sometimes kenapa doi bisa setegar dan seceria itu. Mungkin gue emang melankolis garis keras #huff

Ketika gue kumpul sama sohib-sohib gue yang lain, sebelum pergi ke rumah duka, pun kita masih bisa ketawa-ketawa. Bahkan gue masih bisa ngelawak. Yang membuat gue kemudian berpikir, bokap temen kita baru aja meninggal, dan kita ketawa-ketawa di sini kayak gak terjadi apa-apa. Tapi kemudian gue bertanya ke diri gue sendiri, “Lo sendiri kenapa Lol, malah ketawa-ketawa gini?”, yang kemudian jawabannya gue dapetin; karena ketawa-ketawa sama mereka bisa  menghilangkan (at least, menutupi) rasa sedih gue. Karena gue gak mau makin sedih dan depresi.

Ketika kemudian gue ketemu Shinta, gue lega. Di pelukan gue, dia sempet nangis sebentar. Well, dia kelihatan tegar banget. Sampe sekarang gue gak yakin gue bisa setegar itu. Mungkin gue akan pingsan di tempat, kalo gue ada di posisi dia. Mungkin gue akan menyendiri di kamar, kemudian nangis, menggunakan persediaan air mata gue untuk beberapa puluh tahun ke depan. Dia keliatan seneng banget sama kehadiran kita. Padahal kita gak ngapa-ngapain. Cuman dateng aja. Tapi dia bilang, “Makasih ya udah dateng. Kalian emang sahabat gue“, yang kemudian membuat gue sedikit mereview hubungan apa yang udah gue berikan ke dia selama ini.

Selama kuliah, hubungan dia dan kita agak-agak renggang karena kurangnya komunikasi. Selama ini percakapan cuma dilakukan kalo ada hal-hal tertentu aja, misalnya, patungan kado ulang tahun sohib yang lain (yep, karena kita sebokek itu), kumpul-kumpul anniversary persahabatan, atau kalo mau nongkrong-nongkrong setiap liburan kuliah, itupun mostly lewat sms, which isn’t convenient at all.

Sampai  beberapa hari yang lalu, dia ngucapin selamat ulang tahun ke gue lewat message facebook (karena dia bersikeras gak bikin whatsapp atau line). Facebook mewajibkan gue untuk download aplikasi messenger di hp gue agar bisa bales message dia dan waktu itu gue males banget download aplikasi tersebut. Gue pun baru bales message dia esok harinya (gue lakukan setelah beberapa detik berkontemplasi untuk download aplikasi messenger apa enggak, karena sejujurnya gue yakin gue gak akan gunain lagi aplikasi itu). In the end,  gue yakin kalau gue harus keep my best friend near. She is worthy, dan akan sangat asshole sekali diri ini kalo gak bales ucapan ulang tahun dia cuman gara-gara males download aplikasi messenger. Hal yang kemudian sangat gue sukuri gue lakukan, karena kemudian kita jadi bincang-bincang banyak dan saling kasih update tentang kehidupan masing-masing. Kita jadi sering ngobrol lagi dan hubungan yang renggang lama kelamaan jadi nyatu lagi..Gue bersyukur banget, karena sehari kemudian, ketika bokap dia meninggal, kehadiran gue bisa seengganya sedikit menghibur dia when she needs me most.

Gue kemudian ketemu nyokapnya. Nyokapnya yang terakhir gue liat 4 tahun lalu, ketika kita bareng-bareng ke rumah dia di Bekasi untuk kasih dia kejutan ulang tahun. Gak nyangka aja gue akan liat beliau lagi 4 tahun kemudiaan di saat-saat seperti ini.

God works in his mysterious way. Itu pelajaran hidup yang gue terima di beberapa hari pertama berusia 20 tahun.

Gue juga menyadari kalo kita sama-sama bertumbuh dewasa; kita berusaha ngadepin saat-saat susah bareng-bareng. Mungkin di awal-awal persahabatan, kita lebih sering mengalami hal-hal yang menyenangkan, tapi seiring umur yang nambah dan seiring pemikiran yang mulai dewasa, life happens, dan gue seneng, kita masih bareng-bareng di saat-saat susah. Mungkin sebentar lagi salah satu di antara kita ada yang nikah, dan kita juga akan berbagi kesenengan bareng-bareng lagi.

Advertisements